Politisi Dan Wanita Dalam Sindrom Demokrasi
Oleh : Gusman Mangero
Adegan itu saya ingat sejak aku menginjak di kota Nyiur Melambai; senja itu, bibir tebal bergincu berdiri dipingir jalan, penuh warna merona, merenda malam mengandung hati nan luka, ketika lapar menghapus rasa malu, tatapan sinis beribu mata, menembus tulang, mengukur keyakinan arti sebuah kehidupan, kembang malam datang, merabah-rabah, yang bermahkotakan “bangsawan”. Terbuai dalam belaian tangan halus, binal kian mengggoda, meradang oleh nafsu jasmani, mereka lupa indentitas, mereka terbang dalam alam mimpi. Hayalan berlalu, mentari pagi datang menjemput siang, pangkuan gadis penggoda terlanjur menopang pengubar janji.
Dua insan yang memiliki persamaan moralitas, namun berbeda profesi, memakai cadar yang sama, bagai dua sisi mata uang, kadang harus rela dijejalkan, juga tanpa rasa malu kadang menjadi alat tukar, dan akhirnya adalah kepuasan raga
Kini, gadis penggoda bergambar rupiah, berdiri penuh gairah, setengah telanjang menari diatas permukaan karpet merah, dituliskan terjual, dilumat habis oleh benalu demokrasi. Ini bukan sekedar hayalan, bibir pun bukan sekedar bergabu, semua orang tau, teruai sudah sindrom demokrasi melahirkan politisi mudah yang tidak berbakat dan tak berduit, mengantri dengan sabar dipelataran wasit demokrasi, mengambil jatah kelicikan dan kebohongan, menepis nurani yang rindu kebenaran.
Yang BENAR inginkan, bukan warni-warni kehidupan, bukan perang bendera disetiap sudut jalan, bukan juga seribu bahasa yang kamu ucapkan, juga bukan semangat dalam dadamu, tapi Yang BENAR inginkan, sikap jujurmu yang tulus dari libuk hati yang paling dalam
Terjal ambisi tak terukur, zona sandiwara dalam kata sejarah demokrasi adalah foto kopi dari pengalaman yang telah tersimpan rapi. Semenjak terbenamnya dinasti orde baru, dan terbit Era Reformasi Indonesia, dimulai pada pertengahan 1998, pemerintahan Soeharto terjungkal, yang kemudian memicu kerusuhan Mei 1998 sehari setelahnya. gerakan mahasiswa pun meluas hampir di seluruh
hati legah, nurani menari, genderang kemenangan ditabuh, panggung sandiwara menunggu, tak ada yang tahu, tak seoarangpun dapat menebak, dimana nahkoda akan melabuhkan perahu damai ibu pertiwi
Kini, era yang kelabu membayangi, tersirat jelas mekarnya asumsi ketidakpercayaan politik, terhadap kematangan demokrasi rakyat jelata, dalam melaksanakan demonstrasi demokrasi pada tahun-tahun yang telah lalu, bahkan ribuan korban anak bangsa gugur dalam revolusi demokrasi, mereka dijuluki sebagai fondasi reformasi menuju Indonesia baru, bagi bibir manis dan lidah berbisa, hanya mereka anggap statistik membisu.
Lukisan mereka yang tersohor, menghias dinding kota, menambah monopoli kekerasan sosial dan budaya
Penganut garis pemikiran pesimisme atau nihilisme merenung, demokrasi yang manakah yang hendak kita rayakan? Bukankah budaya mapalus, budaya kebersamaan yang selama ini menjadi mahakarya yang telah terlukis dimata dunia, nyaris terkikis oleh arus politik kotor, dan hampir ditinggalkan pemilik lahan?, dan bukankah sejarah mencatat, kesenjangan sosial dan kimiskan kian membumbung tinggi sampai pada ambang batas kesabaran? Sungguh catatan sejarah yang memilukan.
Tidakah kita tahu, ada yang lebih penting ke timbang pesta demokrasi, yakni keutuhan sebuah cita-cita moralitas yang layak
Lalu, alasan yang manakah yang hendak diwacanakan lagi? Nilai tawar mana pula yang ingin kalian jual ? Terlanjur sudah pesta demokrasi itu terjadi, baginya, demokrasi adalah soal transaksi, dan birahi, tapi lain bagi sang juri demokrasi!.
Nalar mereka terbatas, pengalaman mereka nihil, bibir mereka penuh sumpah serapah, mereka sering kabur merekam sejarah, patutkah mereka ditertawai?, mungkinkah dia yang tersohor hanya menjadi interior teater politik ?..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar