Rabu, 27 Mei 2009

Sang Pangeran Yang Datang dan Pergi

Sang Pangeran Yang Datang dan Pergi

Oleh : Gusman Mangero

November kelabu. Nostalgia yang dulu indah kini jadi ternoda. Sang pangeran dijemput mempelai pengadil, neraca si tuan benar tertancap indah di jantung teradil. Memang harus demikian, hukum memerlukan hakim, dan hakim memerlukan korban. Tak ada canda, tak ada tawa, terbias senyum mungil, dibalut mendung kelabu. Ada yang berkata dia telah tertangkap basah! Ada juga yang berkata mereka keliru! Sahabat karib dan keluarga terdiam, menonton dari balik jendela.

Bagai kisah lembah cinta penuh intrik, penuh kenangan memilukan, mengharukan, mengundang banyak tanya, ada yang tertawa. Namun ada pula yang menangis. Sebuah drama kehidupan tercatat sudah, pada untaian kata dibingkai warna, meredam identitas sosial, mengandung luka dan kini retak. Maestro bunga tulip terperangkap jerat halus kelindan sutera, sang “srikandi”.

Dari dusun yang kecil, wajah yang kusut, berkumis tapi tak berjenggot, ia menggapai mimpi, melejit bagai anak panah, melompat masuk, dalam sejarah cerita rakyat, meski kerikil tajam dituai, tubuh yang subur kini menjadi dewasa, titipan nasihat ditinggalkan sang bunda tercinta, berwujud impian membangun ibu pertiwi.

Membangun harmoni menuai sukses, puing-puing kekerasan itu terdiam indah, terpandang cantik mempesona, bagai biola sang penakluk. Wajah Kota Manado kini berubah drastis, dipoles pemilik palu, bila dinalar dengan logika.

Tapi, anak panah yang dilepaskan sang pangeran, terlalu berwarna-warni, melebur dalam khayalan, bahkan tak bisa mati dan tak luput dari rumusan kata dan pikiran, momen itu adalah isyarat keniscayaan dari sebuah kata “pembangunan” yang kini telah disulap menjadi sebuah konsep.

Terdengar kini dongeng itu bercerita, tentang anak manusia; Pencari nafkah memberontak tapi tak berdaya, bahkan ada yang menentang dengan belati tapi sang pangeran tidak bergeming, tergusur kini tempat berteduh, mereka berdalih, tapi tidak dimengerti oleh kaum pinggiran.

Di gang sebelah, anak kecil telanjang dada, menari meliuk-liuk , bersama lagu kampungan di emperan jalan pusat kota, tak peduli gelinya hidung, dipenuhi liur berlendir, mengais nasi dari yang kaya tertawa berpesta pora.

Lagu lama berdesir bagai air nan merdu, penadah tangan terus bergoyang di pinggir trotoar, lalat siang mengintari, mentari membakar kulit hitam bagai arang. Pentungan bertalu-talu, derap sepatu pasukan warna coklat kian menghimpit, serupa prajurit melangkah berganti-ganti, tapi penadah tangan terlampau tua untuk berontak.

Di persimpangan jalan itu, di bawah pohon akasia yang rindang, bisingan teropong asap memecah keheningan, penakluk siang di bawah awan, menapak hari menyambung nyawa. sejenak terlihat, berjejer gambar calon pangeran perayu, terucap janji, penuh madu dan racun.

Ketika ambisi menusuk, ke segala pojok hidup dan lubuk jiwa, dan ketika para ahli kata, merasa diri jadi penyambung lidah, tapi janji manis itu terlanjur usang, dimakan mentari, dan kini menjadi tanda luka sejarah yang dalam.

Poros sejarah menyentuh keadilan, meruntuhkan fondasi kelicikan, tapi akankah kita belajar taat dari apa yang telah digariskan? Lalu apakah, mereka sampah masyarakat? yang berdasi tapi tak berakal, berjiwa tapi tak bernyawa.

Jarak antara keadilan dan sikap yang tidak jujur, hanya terbentang beberapa senti. Mungkinkah mereka mencintai dusta dan membenci keadilan? Lalu siapakah sang pangeran berikut?

Begitulah akhir sebuah legenda karpet merah, ia rela kehilangan, ia menerima bila hatinya dilukai, ia ikhlas dalam derita karena pasrah kepada sang pengadil. Tapi setiap jengkal perbuatan, dan setiap tapak kaki yang ditinggalkan, kenanglah tragedinya, niscaya akan menjadi pelajaran yang sungguh berarti, dan kita lebih mengenal siapakah diri kita.(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar