Penerimaan CPNS Lokomotif Politik?
Penulis: Gusman P. Mangero
Penerimaan pegawai negeri sipil telah diumumkan, disetiap kabupaten/kota, syarat-syarat untuk menjadi cpnspun masih mengunakan cara seperti tahun-tahun yang lalu. Hal yang paling penting adalah Skill (keahlian) menjadi syarat utama, namun sering kali tidak diperhatikan, padahal untuk menjadi seorang aparatur negara perlu adannya keahlian khusus sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki.
Belajar dari pengalaman yang selama ini kita saksikan setiap hari khususnya jam-jam kerja, kerapkali seorang pns atau yang disebut sebagai aparut negara hanyalah sebagai pegawai dh alias daftar hadir, datang kekantor hanya mengisi daftar hadir, selebihnya main kartu atau melakukan hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, adalagi setelah diterima menjadi pns yang bersangkutan tidak tau kerja, karena nihil pengalaman atau tidak adanya kemampuan yang dimiliki.
Berbekal ijasah yang dimiliki namun tidak disertai dengan keahlian adalah sebuah kekeliruan yang sangat besar jika penerimaan cpns pada setiap tahun tidak diubah pola rekrutmenya, pemerintah mestinya belajar dari lembaga-lembaga swasta disaat melakukan seleksi cpns. Diperusahaan swasta seorang calon tenaga kerja wajib memiliki pengalaman kerja (Job Reference) yang dapat dipertangungjawabkan, agar benar-benar mampu menempati posisi tertentu.
Standar penerimaan cpns yang hanya mengutakan gelar dan tidak disertai dengan pengalaman kerja sering terjadi setiap tahun, sayang kekeliruan ini selalu dilegalkan, padahal ini adalah sebuah kemunduran jika sebuah negara menganut paradigma good government, dan slogan ini sudah seyogianya merupakan isu sentral dalam rangka pembangunan bangsa dan negara.
Ataukah peneriman cpns merupakan lokomotif politik?, Atau untuk yang bergelar tapi tidak berkualitas?. Kita tunggu sajah hasilnya.(*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar