Sang Dokter Yang Angkuh
Gusman P. Mangero
Potongan-potongan awan menghiasi lagit biru, mendung meliputi menjelang soreh, keresahan dan rasa cemas jelas terlihat dimata sang ibu, yang sehari-harinya merawat buah pernikahan bersama suami tercinta beberapa tahun lalu.
Tak terasa putri bungsu berkakak putra yang duduk dibangku sekolah dasar, cecenti terukur tubuhnya kian tinggi. Resa dan gelisah tersirat jelas mata sang ibu, putri yang dicintai mengidap penyakit yang tidak jelas asal usulnya, kata penduduk desa “itu luti air”, ilmu kesehatan menyebutnya infeksi kulit.
Dengan tidak banyak tanya, tegopoh-gopoh sang ibu mendekati tukang ojek, dia hendak membawa sibungsu ke pawang penyakit. uang di rogoh dari saku yang hampir bolong, yang hanya beberapa lembar yang kusut tersisah di saku, bergegas menaiki bus kota menuju emperan jalan sario wilayah kota Nyiur Melambai, dipinggir jalan disana tertacap papan nama sang dokter bergelar professor, papan nama itu bertuliskan gelar dan dan nama sang dokter dibawanya diampit dengan kalimat “jam kerja setiap hari kecuali hari libur mulai jam 18.00 sampai dengan 20.00.
Sang ibu dengan tangang gemetar mengambil sampu tangan yang terkoyak karena terlalu sering dicuci, mengeringkan peluh ditangan dan dahi. Dengan sopan sang ibu duduk kursi yang tersedia memanjakan tubuh setelah tenaga yang terkuras menggendong putri tercintah dari perjalan melelahkan. pembantu sang dokter menyapa, sambil menuliskan nomor antrian dibuku yang telah tersedia diatas bangku tua.
Terlihat wajah-wajah mungil dan lucu tersenyum merasakan peluk hangat sang bunda tercintah, memandang dengan sayu, menahan rasa sakit yang diderita. Ibu-ibu yang menggantri tak lupa bercerita tentang penyakit diderita oleh anaknya masing-masing. Tak terasa waktu berlalu, jam menunjukkan 19.30 tinggal beberapa 30 menit lagi tepat praktek sang dokter ditutup, tapi wajah sang dokter tak kunjung terlihat , rasa cemas meliputi wajah sang bunda, cerita dan celoteh pun dilanjutkan, tepat .20.00 malam, sang dokter pun datang dengan, penuh wibawah menyapa wajah-waja yang sudah lesu setelah sudah sekian lama menuggu pawang penyakit, anak-anak yang lugu menangis menahan rasa sakit ada juga yang sudah tertidur. Dengan tidak merasa bersalah sang dokter dengan gelarnya yang disandang tapi tidak bermoral, dia masih sepat tersenyum setelah satu sampai dua jam menelantarkan orang desa mencari rasa sehat mengobati buah hati yang mereka kasihi dan cintai.
sang dokter dengan teliti menganalisa penyakit berdasarkan keluhan orang tua pasien, tapi dia tak pernah telili memahami pentingnya waktu bagi penduduk desa. (*)
Rabu, 24 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar